28 Jan 2012

'Prison and Paradise' dan Pemahaman Jepang Soal Islam Pasca Bom Bali

Para pelaku bom Bali, dari kiri: Ali Ghufron, Imam Samudra, dan Amrozi Nurhasyim yang dieksekusi mati pada 9 November 2008 (foto: dok). Film dokumenter “Prison and Paradise” karya Daniel Rudi Haryanto mendokumentasikan wawancara dengan para pelaku utama bom Bali dan keluarga mereka.
Film dokumenter 'Prison and Paradise' tentang para teroris 'Bom Bali' meraih penghargaan Director of Guild (penyutradaraan terbaik) pada Yamagata International Documentary Festival, November 2011. Pekan lalu film ini diputar di Pusat Kebudayaan Jepang – The Japan Foundation.
Bom Bali 2002 telah mengubah wajah Indonesia secara signifikan, menyisakan perdebatan panjang tentang jihad, isu terorisme, kemanusiaan serta gerakan politik Islam. Sama seperti di Amerika Serikat pasca serangan 11 September 2001, masyarakat Jepang pun dikejutkan dengan peristiwa tragis tersebut. Demikian halnya ketika ledakan bom terjadi di Bali pada 2002, dan sejumlah warga Jepang ikut menjadi korban.
Belakangan, warga Jepang mulai mempelajari Islam dan memandang kejadian terorisme itu dari sudut pandang yang berbeda, melalui sebuah film dokumenter “Prison and Paradise” karya Daniel Rudi Haryanto. Ia mendokumentasikan wawancara dengan para pelaku utama bom Bali; Imam Samudera, Amrozi, Ali Ghufron. Juga wawancara dengan Ali Imron dan Mubarok – yang belakangan insyaf dan dipenjara seumur hidup. 

Yang menarik adalah dialog antara sutradara dengan isteri-isteri dan anak-anak yang ditinggalkan. Ada keharuan bercampur kepasrahan di dalamnya.

Direktur Jenderal The Japan Foundation, Tadashi Ogawa mengatakan film ini membuka mata warga Jepang atas tragedi sepuluh tahun lalu itu; terutama motivasi dan “mimpi” dari pelaku teroris, yang sulit dipahami orang-orang di luar Indonesia.
Wella Sherlita
Sutradara 'Prison and Paradise' Daniel Rudi Haryanto (kiri) dan Direktur 'The Japan Foundation' Tadashi Ogawa.
“Haryanto tidak hanya melukiskan teroris hanya sebagai orang yang fanatik, tetapi ia serius mendengarkan suara-suara dari para teroris dan cara berpikir mereka. Ia menunggu dan mendokumentasikan motivasi, moralitas, mimpi, dan emosi mereka. Ini pertamakali saya bisa mendengar suara hati yang sesungguhnya dari teroris. Sutradara film ini juga benar-benar mendampingi keluarga teroris dan keluarga korban, dengan penderitaan dan kesedihan mereka,” kata Tadashi Ogawa.

Kepada VOA, Ogawa memaparkan bahwa pandangan Jepang soal terorisme dan Islam berbeda dengan pandangan Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Citra Islam negatif di Jepang, namun kini orang Jepang berminat mempelajari Islam, kata Ogawa. Ia menilai peran media dalam hal ini sangat besar.

Daniel Rudi Haryanto mengatakan filmnya pertama kali diputar pada sebuah festival film internasional di Dubai, dan pada saat itulah ia bertemu dengan pihak Yamagata Film Festival. Ia punya alasan sendiri, mengapa film itu lebih dulu dibawanya ke Dubai .

“Jihad mata airnya dari Timur Tengah, dibawa melakui buku-buku dan syiar- syiar ke Indonesia . Terjadinya Bom Bali 1 itu adalah tonggak baru setelah WTC. Indonesia terseret dalam ruang global konflik terorisme. Saya ingin mengambil sampling jihad Imam Samudera yang original ini. Aku bawa (film ini) ke Timur Tengah. Ada satu tanggapan dari juri Palestina. Dia bilang, “Aku bawa ya ini film ini ke negaraku karena ini memberi gambaran betapa rekonsiliasi sangat penting untuk proses perdamaian di negaraku,” papar Daniel Rudi Haryanto.
Dalam filmnya, Daniel memang memperlihatkan kedua keluarga pelaku dan korban menjalin hubungan yang baik; antara Titin, isteri Mubarok beserta dua puteri mereka, dengan keluarga Eka Laksmi; yang suaminya ikut menjadi korban bom Bali.

CNN Hero Robin Lim: Pengabdian Seorang Bidan dengan Cinta Kasih

Foto: Alina Mahamel
Bidan Robin Lim (kedua dari kiri) berfoto bersama Dawn L.Mc.Call (baju putih) dan Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel (kedua dari kanan).
Bidan Robin Lim, peraih CNN Hero of The Year 2011, berulang kali menyerukan kata-kata I love you…I love you...I love you”, dan mengajak para pengunjung @america, Sabtu (14/1) pagi itu, mengikuti perkataannya. Meski sampai saat ini ia masih berkewarganegaraan Amerika, namun sudah lebih dari 20 tahun waktunya dihabiskan untuk mengabdi bagi masyarakat Indonesia.
Ucapan Bidan Robin ini seakan menegaskan kecintaannya kepada Indonesia, “Saya jatuh cinta sama Indonesia. My next generation, my grand children are Indonesian, so my focus must be Indonesia, for the future generation.”
Ibu Robin memutuskan menjadi bidan setelah adiknya meninggal karena komplikasi pasca persalinan. Dengan bantuan bidan-bidan lokal, perawat dan dukun bayi yang ada di Aceh, Bali dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia, ia pun mendirikan Yayasan Bumi Sehat yang membantu persalinan kaum ibu yang tidak mampu.
“Waktu orang melahirkan itu bukan situasi medis, tetapi itu adalah situasi ajaib. Saya ada mimpi bisa bantu banyak orang yang bukan orang kaya tapi orang biasa,” ujar Bidan Robin Lim.
Alina Mahamel
Andrea Hirata, penulis 'Laskar Pelangi'.
Perayaan ulang tahun pertama @america juga menghadirkan penulis terkenal Indonesia, Andrea Hirata.
“Seniman memerlukan panggung, orang-orang yang bekerja di bidang seni memerlukan tempat untuk berekspresi. Saya merupakan salah satu orang yang mendapat manfaat dari @america. Contoh nyatanya adalah, kalau tidak ada project seperti ini, dulu mungkin saya tidak akan dapat beasiswa untuk belajar sastra ke Iowa, AS," kata Andrea Hirata.
Andrea Hirata adalah penulis buku fenomenal 'Laskar Pelangi' yang saat ini menjadi satu-satunya buku dari penulis Indonesia yang akan diterbitkan oleh Farrar, Straus and Giroux (FSG), penerbit yang dikenal banyak melahirkan karya sastra dunia pemenang nobel.
Pusat kebudayaan AS, @america telah meraih lebih dari 100.000 pengunjung dan menjadi tempat diselenggarakannya berbagai pertunjukan musik, tari, teater, dan kegiatan yang berkaitan dengan dunia pendidikan, kebudayaan, lingkungan hidup, kewirausahaan hingga berbagai diskusi virtual berteknologi tinggi.
Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel, kembali menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan @america sebagai tempat berkumpulnya ide-ide kreatif, dan diselenggarakannya kegiatan yang mampu memperkuat hubungan, antara masyarakat Amerika dan Indonesia, terutama kaum muda.
“Ada resep gratis untuk punya anak yang lebih pintar yaitu ibu hamil harus banyak tertawa. Ada hormon sedih namanya kortisol. Kalau ibu banyak hamil, banyak kuatir, banyak menangis, pasti banyak kortisol dalam badannya, itu akan berpengaruh pada otak anak nanti. Maka, ini jadi tugas Bapak untuk membuat ibu hamil sering tertawa,” papar Robin Lim.
sumber: voa news

Profil Facebook Timeline Yang Sangat Keren


Kalau bicara tentang kreatifitas manusia memang tak ada habisnya. berikut ini adalah foto bagaimana kreatifnya manusia yang mugkin ada sama sekali tidak kepikiran untuk melakukannya....

Aku tidak bisa mengomentari  gambar-gambar dibawah ini,silahkan di komentari sendiri,,,hehe





































Nah kalau gambar ini adalah facebook timeline saya,,gimana gan,keren ngak??hehehe

bagaimana?sudah punya ide untuk membuat sesuatu yang lebih menarik dari yang diatas??












27 Jan 2012

Guru Dari Australia Kaget Dengan Budaya Murid Indonesia


Sistem pendidikan, ditambah budaya yang berbeda membuat beberapa guru Australia peserta program Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (BRIDGE) terkaget-kaget begitu mendapat kesempatan mengajar beberapa minggu di Indonesia.
Meski demikian, mereka bisa cepat beradaptasi dan mengaku banyak menemukan hal menarik yang tidak mereka temui di negara mereka.

"Saya melihat murid-murid Indonesia sangat menghormati guru mereka. Jujur, saya kaget dengan tradisi murid-murid mencium tangan saya sebagai bentuk penghormatan terhadap guru," tutur Emily Sullivan, seorang pengajar dari Our Lady of Sacred Heart College, Adelaide, di Jakarta.

Menurut Emily, yang mengajar selama beberapa minggu di MAN 2 Jakarta, di Australia murid-murid terbiasa menyapa guru mereka dengan cara yang kasual. Tak heran pengalaman pertamanya mendapat cium tangan dari murid-murid Indonesianya sangat berkesan.

Kolega Emily, Laura Brzezinski, juga mengaku kagum dengan tradisi upacara bendera. "Anda menghormati jasa pahlawan dengan berdiri dan memberi hormat selama beberapa menit setiap Senin pagi, itu mengagumkan. Orang Indonesia ternyata menghargai jasa pahlawannya," kata dia.

Bagi Emily dan Laura yang belum pernah berkunjung ke Indonesia sebelum mengikuti program BRIDGE, pengalaman mereka meruntuhkan stereotip tentang orang Indonesia yang selama ini digembar-gemborkan media luar.

Hal senada juga diutarakan Adam Chad, pengajar Canberra Grammar School, yang mengaku sudah sering sekali bepergian ke Bali. Ia mengungkapkan, media Australia selama ini menggambarkan Indonesia sebagai negara yang masih tertinggal, kecuali untuk Bali yang pariwisatanya sudah mendunia.

"Padahal, kalau orang Australia ingin tahu Indonesia yang sebenarnya, mereka harusnya datang ke tempat selain Bali, ke Jawa misalnya. Banyak hal tentang Indonesia yang tidak bisa Anda temui lewat buku atau Internet," ujar pria berambut pirang ini.

Adam sendiri mengaku kagum dengan nilai keluarga yang masih sangat kuat di Indonesia. "Di Indonesia, apapun yang terjadi pada Anda, selalu ada keluarga sebagai support system. Sungguh sesuatu yang tidak bisa sering ditemui di Australia."

Lain lagi cerita Melanie Cross, pengajar Waggrakine Primary School, Geraldton. "Murid-murid Indonesia sangat menyenangkan, mereka antusias! Kalau sudah di depan kelas, kadang saya merasa jadi selebriti," katanya setengah berseloroh.

Menurutnya, anak-anak Indonesia memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, namun tanpa mengurangi rasa hormat mereka terhadap guru. Selain itu, kekerabatan antar mereka juga masih kuat.

"Inilah yang menjadi pentingnya ada kemitraan yang kuat antara Indonesia dan Australia. Saya harap semakin banyak siswa Australia yang tertarik mempelajari Indonesia dan budayanya dengan berkunjung langsung ke Indonesia,"  harap Melanie.

Animator Film Tintin Ternyata Orang Indonesia

Siapa yang tidak kenal sama tokoh komik yang satu ini,ya si jurnalis berjambul bernama Tintin yang ternyata di buat oleh animator muda asal Indonesia bernama Rini Sugianto dalam film animasi berjudul "the adventures of Tintin" karya Steven Spielberg. Rini menjadi animator utama dengan mengerjakan 70 shot dalam film Tintin ini.


Rini yang saat ini bekerja sebagai animator di perusahaan WETA digital di Selandia Baru  adalah lulusan S2 dari Academy of Arts di San Francisco, California  dia rela untuk meninggalkan pekerjaan dan kehidupannya di Amerika dan pindah ke Selandia Baru, setelah mendapat tawaran untuk menggarap film yang disutradarai oleh Steven Spielberg ini. Film ini merupakan film hollywood pertama buat Rini dimana dia sebagai animatornya, yang mana sangat membanggakan tentunya.

Saat ini, Rini juga sedang menggarap animasi untuk film Hollywood lainnya. “Sekarang lagi ngerjain film "The Avengers," jadi kalau pada nonton film "Thor" dan "Captain America" dulu, ada klip-klipnya untuk "The Avengers." Ini gabungan semua superhero,” jelasnya.

Pesan Rini terutama kepada sesama animator adalah untuk tidak pernah putus asa dalam menggapai cita-cita. “Never give up. Kalau memang ada perusahaan yang animator-animator Indonesian mau tembus, pelajarin tipe animasi mereka dan buat animasi yang seperti tipe yang mereka kerjakan. Lama-lama akan terbuka peluangnya.”

Dengan melihat apa yang sudah dicapai oleh Rini, rakyat Indonesia sepatutnya berbangga hati memiliki seorang animator yang namanya sudah ada di big screen  dalam sebuah film hollywood. Seperti kita ketahui sekarang bahwa sebagian besar perfilman indonesia sudah tidak lagi mementingkan kualitas dari sebuah film, tak perduli ceritanya monoton dan itu-itu saja genrenya cukup bermodalkan artis yang berani berakting panas dan film pun jadi.

Terima kasih Rini Sugianto untuk INDONESIA nya....








sumber: voa news,Kamis, 08 Desember 2011







facebook comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More