9 Feb 2012

Pemberian Mas Kawin, Haruskah?


Ranjana Kumari, yang bekerja pada Pusat Penelitian Sosial di New Delhi, dalam 30 tahun terakhir menentang sistem mahar. Kumari mengatakan pemberian mahar oleh keluarga pengantin perempuan kepada keluarga pengantin lelaki menurut sejarahnya adalah untuk memberikan restu, tetapi sekarang diartikan sebagai bencana.
“Pada akhirnya mas kawin itu dikuasai para ipar yang serakah, yang haus uang, yang ingin hidup mewah tanpa kerja keras,” ujarnya.
Inilah yang meng-ilhami dibuatnya Sebuah Game di Facebook yang disebut “Pengantin Perempuan yang Berang,” mengingatkan orang pada permainan video “Angry Birds,” atau “Burung yang Marah.”
Pemain game itu berperan sebagai dewi Hindu yang bertangan banyak yang bisa melempar projektil-projektil seperti sepatu bertumit tinggi dan sepatuboot pekerja bangunan pada calon suami.
Setiap kali pemain itu mendapat angka untuk  memenangkan salah seorang lelaki professional yang diinginkan, jumlah uang yang diminta lelaki itu untuk dinikahi berkurang. Biro jodoh yang mengembangkan game itu mengatakangame itu merupakan permainan iseng yang mengilhami perempuan untuk berani menentang pemberian mahar.
Seorang perempuan mengatakan ketika ia pindah ke rumah suaminya setelah menikah, keluarga suaminya sering memukulinya, karena mereka menginginkan mahar yang lebih besar. Suaminya selalu mengatakan kepadanya, satu-satunya jalan ia bisa tetap menikahinya adalah jika perempuan itu membawa uang 50.000 rupee dari rumah orang tuanya. Perempuan itu mengatakan, orang tuanya tidak punya uang lagi.
Secara resmi, pemberian mahar adalah praktik melanggar hukum di India sejak lebih dari 50 tahun lalu, tetapi praktik itu masih merajalela. Ribuan perempuan mati terbunuh setiap tahun dalam perselisihan mahar.
Kumari mengatakan dalam beberapa hal, meningkatnya kemakmuran India memperburuk masalah itu.
“Bagi orang miskin, ada sejenis perjanjian bahwa mahar hanya bisa diberikan dalam jumlah tertentu. Jadi ada saling pengertian antara keluarga-keluarga dalam kelompok itu. Tetapi bagi kelompok menengah, hampir selalu ada keinginan hidup mewah melalui pemberian mahar,” ujar Kumari lagi.
Seorang perempuan lain mengatakan orang tuanya memberinya cincin dan gelang emas, lemari pendingin, televisi, tempat tidur, dan pakaian untuk seluruh keluarga dan kerabat suaminya. Mereka memberi hampir semua barang yang biasanya termasuk dalam mahar. Namun, keluarga suaminya terus meminta lagi.
Para pakar mengatakan ada kaitan jelas antara praktik mahar dengan menurunnya secara tajam jumlah bayi perempuan dibandingkan dengan bayi laki-laki di India.
Dalam hal ini Indonesia tidak jauh beda dengan India. Ya,adanya adat dalam pemberian mas kawin kepada calon mempelai sangat sudah memiliki dampak negatif kepada masyarakat. Khususnya daerah sulawesi selatan pemberian mas kawin kepada calon mempelai wanita sangat diharuskan,karena sudah menjadi tradisi dari leluhur. pemberian mas kawin ini biasanya dalam bentuk sejumlah uang dan jumlah uang pun sangat bervariasi. 
Pemberian mas kawin ini bukanlah hal sulit bagi mereka yang punya banyak harta, tapi bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah?ya,disinilah hal negatifnya,dimana para kalangan ini memiliki cara sendiri apabila jumlah mas kawin yang diberikan tidak sesuai dengan yang di harapkan mempelai wanita. Inilah yang menyebabkan banyaknya kasus kawin lari,hamil diluar nikah,pencurian dll.
khusus untuk kasus hamil diluar nikah,cara ini sangat ampuh, karena keluarga mempelai wanita pasti akan berfikir 2x bila ingin menolak pinangan tersebut,berapapun jumlah mas kawin pasti akan diterima.
Nah,yang mana harus dipertahankan???

sumber referensi: voa news Rabu, 25 Januari 2012

0 komentar:

Poskan Komentar

My blog is dofollow...

pengunjung yang baik adalah pengunjung yang selalu memberi apresiasi dengan meninggalkan pesan komentar...

facebook comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More